Pendiri KBMM Rifki Payobadar bersama Adib Alfikri

Kepanikan masyarakat Minangkabau terhadap generasi muda makin memuncak, saat mereka melihat anak kemenakan mereka dalam kepungan budaya asing. Kepanikan ini sangat beralasan jika mengingat Minangkabau yang dahulunya dikenal sebagai gudangnya intelektual, cendikiawan dan para ulama, pada saat ini kejayaan itu telah berbalik menjadi cerita dan nostalgia saja seakan telah gulung tikar. Berbagai upaya telah dilakukan namun saat ini yang terlihat malah semakin rusaknya moral dan perilaku generasi mudanya. Berbagai penyimpangan merajalela seakan mengarah kembali ke kondisi Minangkabau Jahiliyah dimana masa itu berbagai perbuatan tercela berjangkit di tengah masyarakatnya.

Dewasa ini sebuah pergerakan positif mulai ditunjukkan oleh sebagian generasi muda Minangkabau terutama para generasi muda yang berada di perguruan tinggi baik yang di daerah maupun luar daerah sumatera Barat. Munculnya berbagai ikatan dan perkumpulan kepemudaan yang yang bersifat daerah (paguyuban), maupun pergerakan berbasis kampus yang biasanya ditemukan hampir disemua kampus di luar Sumatera Barat. Para pemuda Minangkabau terbukti mulai menunjukkan lagi geliat kebanggaan atas budaya mereka walaupun pada sebagian yang lain menunjukkan kemerosotan yang semakin parah.

Namun, potensi ini secara massif belum termanfaatkan dengan baik. Pemahaman akan budaya Minangkabau itu sendiri secara utuh dan menyeluruh menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi. Karena kebudayaan itu sendiri memiliki wujud ideal (abstrak) selain wujud kongkritnya (benda-benda budaya). “Kebudayaan adalah kompleks totalitas yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh oleh sebagian anggota masyarakat” (Tylor 1971). Bierstedt (1970) mengemukakan pengertian yang lebih sederhana: “Kebudayaan merupakan suatu kompleks totalitas yang terdiri dari semua cara orang berfikir dan berbuat dan segala sesuatu yang dimiliki.” Dengan demikian kebudayaan terdiri dari tiga komponen, yaitu gagasan-gagasan (ideas), norma-norma (norm), dan benda hasil kebudayaan (things).

Ketimpangan dalam pemahaman hakekat  budaya Minangkabau itu sendiri pada akhirnya akan mempengaruhi usaha dan upaya para pemuda yang telah tergabung dalam berbagai komunitas ini. Dikhawatirkan malah akan melahirkan usaha-usaha yang kontra-produktif dalam upaya pengenalan budaya pada generasi muda Minang lainnya dan pelestariannya. Sehingga munculnya resistansi budaya yang muncul dalam pengkristalan impian-impian dan cita-cita yang tidak tercapai dalam bentuk simboliasi atau ritualitasi yang merupakan budaya yang berpusat pada upacara-upacara dengan kesemarakannya. Akan tetapi semua itu hanya bersifat fisik, formal, dan kulit belaka tanpa menyentuh aspek yang penting dan mendasar.

Atas dasar pertimbangan diatas maka KBMM akan melaksanakan diskusi Kepemudaan dan silaturahmi Mahasiswa Minangkabau yang insyaallah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal     : Sabtu/ 11 februari 2012
Pukul                  : 08.00 – 12.30 WIB
Tempat              : Auditorium Gubernur Sumatera Barat
Peserta              : Perwakilan Organisasi Mahasiswa Daerah se-Sumatera Barat dan Umum
Pembicara*      : Buya Mas’oed Abidin, Trinda Farhan, M.T (Wakil Ketua DPR Provinsi Sumatera Barat),
Riwayat At-Tubbani (Pemerhati Pemuda Sumatera Barat)

Ketua Keluarga Besar Mahasiswa Minangkabau – Muhammad Habibie
Dewan Pertimbangan Pengurus Keluarga Besar Mahasiswa Minangkabau – Rifki ST