Kenapa tiba-tiba umat muslim percaya dengan framing yang dibikin Metro TV dengan adanya peristiwa pemecatan/berhentinya Najwa Syihab dari Stasiun TV yg lagi di puncak kejayaannya tersebut? Banyak netizen seperti terhipnotis, gembira lalu spontan saja melakukan share video ekslusif wawancara Najwa dgn Novel. Padahal isi wawancaranya tidak begitu mengejutkan (menurut saya).

Pertanyaan yang ada di benak saya: Lalu kenapa wawancara ini muncul setelah video petinggi salah satu partai menjadi viral? Kenapa tidak petinggi partai yg merusak kebhinekaan itu saja yg diwawancara? Padahal lagi viral, lagi hot atau lagi panas-panasnya.

Kenapa novel yg dipilih diwawancarai? Istimewanya, kenapa dikatakan oleh Najwa tempat wawancara yg dirahasiakan? Urgensinya apa dirahasiakan, memangnya Novel buron dan lagi dalam pencarian interpol? Padahal di dalam percakapan wawancara Novel sampaikan selama di singapur dia ditemani dan dibantu oleh teman-teman dari KPK, Keluarga dan juga dibantu oleh KBRI. Kalo KBRI tau, ya polisi tentunya juga tau keberadaan beliau, sama2 pemerintahan. kenapa dibuat drama di wawancara di singapur di tempat yg kami tidak sebutkan?

Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lain lagi muncul dibenak ini saat menonton dan menyimak video tersebut.

Lalu, setelah pemecatan/berhentinya Najwa dari Metro TV dan tersebarnya isu Najwa dibawa keluarga untuk tinggal di luar negri, ini seperti untuk memperkuat framing pertama (Najwa dipihak yang dikejar-kejar mafia koruptor layaknya Novel). Nah sekarang muncul isu resufle kabinet dan diisukan najwa mendapatkan kursi mensos. Framing penokohan, memposisikan kualitas najwa kualitas seorang mentri. Sama seperti di daerah2 otang yg ingin menjadi tokoh masyarakat dengan cukup mencalonkan diri sebagai calon walikota. Jadi tidaknya gak penting yg penting bacalon dulu, cap tokoh masyarakat sdh di tangan. Begitu juga dgn framing kandidat mentri sosial yg di dapatkan najwa. Beliau berada di pihak A yang merupakan musuh dari kelompok B, beliau melakukan pekerjaan berjuang sebagai jurnalis profesional sehingga banyak lupa bagaimana Najwa juga profesional dalam mengarahkan perbincangan siapa yang dipojokkan dan siapa yang mesti diapungkan.

Untuk menambah framing ini bukanlah sebuah framing, Najwa tidak lupa mengunggah foto dengan Novel jauh sebelum wawancara dilakukan. Apakah ini kebetulan atau sudah bagiam dari framing?

Makin penasaran, framing apalagi yg dibangun. Demi mengamankan dan menutup peristiwa demi peristiwa.

Pelan2 mengunyah informasi, apalagi berbau politik.

Perjalanan hidup seorang Najwa Syihab menjadi menarik bagi say untuk diamati, kemana arah karirnya selanjutnya? Politisi seperti temannya terdahulu Mutia Hafidh atau tetap menjadi jurnalis senior seperti Desi Anwar? Mari kita nikmati. Berdo’a yang terbaik untuk Najwa dan keluarga.