Siang hari ini (23 Mei 2012) menumpangi bus Patas AC no.84 jurusan Depok – Pulo Gadung. Satu jam perjalanan menuju Rawamangun, selama itu pula mata ini melirik berbagai kejadian di Ibu Kota yang sudah beberapa  bulan ini saya tinggalkan.

Setiap orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pemulung tanpa malu dan gengsi mengumpulkan sampah, pengamen bersuara “merdu” bernyanyi tanpa gengsi demi selembar uang kertas, pedagang asongan dengan percaya diri menjajakan dagangannya, bisnisman dengan sibuk marah-marah di depan umum pada orang yang sedang berbicara dengannya di telpon dan masih banyak lagi.

Berani menyimpulkan setiap orang di jakarta ini berani mengerjakan sesuatu yang dia yakini bisa mendatangkan uang dengan percaya diri dan tanpa malu. Banyak alasan untuk tidak malu di Jakarta. Kenapa harus malu? Toh tidak ada yang kenal saya. Kenapa harus malu? Kalo malu saya ga bakalan bisa makan besok. Kenapa harus malu? Toh tidak merugikan siapapun.

Rubah Paradigma

Satu kata yang terfikirkan tapi banyak hal yang bisa di ambil hikmahnya. Yaitu malu. Jika menelusuri sejenak di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) malu itu artinya adalah : merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yg kurang baik (kurang benar, berbeda dng kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb).

Rubah paradigma! Gerakan mari menjadi pengusaha yang digaungkan dimana-mana saat ini menjadi titik terang bagi generasi muda yang memiliki banyak potensi dan lebih berwawasan dari pada generasi sebelumnya. Termasuk generasi muda Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota.

Lulus sarjana kemudian tidak memilih menjadi pegawai kantoran atau pegawai bank, malah memilih berwirausaha bukanlah perbuatan yang kurang baik atau sesuatu yang memalukan. Sebenarnya hal tersebut malah perbuatan yang memiliki tantangan yang lebih berat dan malah bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang tidak sanggup menghadapi tantangan tersebut.

Apalagi pada saat ini ketika segala informasi nasional dan internasional berada di ujung jari anda. Dengan akses internet yang ada dimana-mana menjadi sumber informasi untuk mengembangkan potensi bisnis yang di geluti di daerah. Alasan keterbatasan informasi sudah tidak menjadi alasan memulai usaha di daerah.

Hilangkan Malu, Bunuh Gengsi dan Buang Sifat Malas

Kemudian apa hubungannya dengan peristiwa yang saya amati di Jakarta dengan merubah paradigma kita? Satu hal yang membuat banyak orang di perantauan (tidak hanya orang minang) bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan, adalah tidak menganggap status bukan karyawan atau pegawai kantoran itu suatu hal yang memalukan. Karena memang bukan susuatu yang memalukan. Yang memalukan itu adalah yang tidak berbuata apa-apa untuk menjemput rezeki Nya.

Adalagi cerita lain, istilah “jatuah tapai” seringkali di utarakan pada para sarjana Luak Limo Puluah yang pulang dari rantau dan memilih untuk memulai bisnis di kampung halaman. Ada juga yang menyampaikan, “apolah gunonyo kuliah tinggi-tinggi di UI (Univ.Indonesia), kalo pulang kampuang malah manggaleh? “. Beberapa  pertanyaan di atas malah lebih sering diutarakan oleh orang-orang sekitar.

Fenomena enterpreuner di Indonesia mulai mendatangi Luak Limo Puluah. Dua tahun belakangan dengan adanya para sarjana yang mulai pulang satu persatu kemudian memilih untuk memulai berbisnis ketimbang kerja di perusahaan mentereng di Ibu Kota. Hal itu makin kentara terasa dengan terbentuknya sebuah forum yang bernama SAGO (Saudagar Muda Gonjong Limo) pada minggu malam (20/05/2012) kemarin. Forum ini terbentuk setelah adanya kesamaan visi diantara pemuda-pemuda Luak Limo Puluah yang hadir dalam pertemuan tersebut, yaitu untuk menumbuhkan budaya berwirausaha untuk lingkungan sekitarnya.

Sudah banyak yang membuktikan jika sarjana yang dibicarkan itu pulang kampung bukan jadi pengangguran, malah jadi jutawan. Ada yang mengukir cerita sukses dalam dunia agrobisnis ada yang mendapatkan kesuksessan finansial pada dunia peternakan ada juga yang mulai mengibarkan bendera pada bisnis kuliner dan jasa IT. Cerita indah itu berhasil meruntuhkan teori kalau hidup makmur jika jadi PNS atau pegawai kantoran saja.

Terlahir Sebagai Saudagar Muda

“Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, dirumah paguno balun!” banyak hal yang bisa kita tafsirkan dari kalimat ini. Kadang bisa menjadi negatif, namun bisa juga di arahkan menjadi kalimat motifasi bermakna positif. Dirantau selah awak dulu, raso-raso alun paguno wak dek urang di kampuang dek alun berhasil. Hal negatif ini yang dominan dalam masyarakat kita saat ini, sehingga ragu untuk pulang ke kampung halaman. Padahal bisa dibalikan seperti berikut : “ko’ nio manjadi urang yang ndak baguno di kampuang, jan lah pulang-pulang lai. Taruih selah di rantau tuh!” Pedas, tapi sangat manjur sebagai pelecut motivasi untuk “pulang” berbuat sesuatu untuk kampung halaman.

Jiwa saudagar dalam diri masyarakat minang yang selama ini sudah menjadi trandmark di perantuan perlu di kembalikan lagi. Jika kita harus jujur dalam menilai diri kita, bisa jadi mayoritas masyarakat kita sekarang banyak yang berprofesi sebagai pegawai negeri atau pegawai kantoran ketimbang menjadi pengusaha atau saudagar. Menjadi tugas yang masih muda-muda dan masih tegap untuk mengembalikan kejayaan saudagar minang khususnya Luak Limo Puluah di kancah nasional bahkan internasional. Dan bagi mamak dan orang tua untuk bisa mensupport anak kemenakannya yang ingin berwirausaha dan membangun nagarinya.