Mempunyai berbagai permasalahan yang kompleks dan rumit, bertabur akan onak dan duri, dan bukan perjalan yang singkat untuk ditempuh melainkan perjalanan tanpa adanya garis finis. Itulah dunia da’wah yang selama ini sangat kita kenal.

Dunia da’wah (akrab didengar dengan dunianya aktivis), dalam pencapaian tujuannya acap kali menemukan tanggul-tanggul yang dapat mengurangi laju dari kendaraan da’wah itu sendiri. Ironisnya, dengan sadar kita menganggap tanggul tersebut hanya merupakan sebuah kewajaran dalam dunia da’wah.

Perselisihan, ketegangan, dan berbagai macam perwujudannya telah mencoba menjadikan tali silaturahim yang berperan sebagai motor da’wah ini ikut terusik. Perpecahan antara aktivis tidak dapat dielakkan lagi, bahkan berbuntut pada pencabutan hak loyalitasnya terhadap dunia da’wah nan indah ini.

Miris memang!

“Lingkaran-lingkaran” yang seharusnya menambah mesrah ikatan tali kekeluargaan diantara mereka malah menjadi sumber api perpecahan kader da’wah masa depan, kader da’wah bangsa, kader-kader da’wah dunia, dan kader da’wah yang akan memiliki prestasi nan gemilang di lembah sejarah manusia.

Siapa yang lebih bertanggung jawab akan hal ini?

Apakah sang murobbi yang tak padan dan tidak memenuhi hak mutarobinya?

Atau memang murni karena konflik-konflik internal (perang dingin) antara anggota “lingkaran” itu sendiri tanpa sepengetahuan murobbinya?

Atau sebab adanya seniorisme (siapa yang dapat hidayah lebih awal dialah yang paling berhak di dengar), hal ini bisa menjadi tanggul pengghalang jalannya da’wah ini?

Jika betul semua hal ini mengakibatkan timbulnya riak-riak kecil di samudera da’wah ini. Maka, apa sebuah kewajaran jika hal-hal ini ikut lebur dan larut dalam formula da’wah kita?

Jangan sampai ghiroh dan ruh da’wah para kader dibunuh dengan divonis matinya mereka di tali gantungan (ketidak pedulian masing-masing kita) yang telah lama melilit di leher mereka.

Dia-lah Allah yang maha membolak-balikan hati kita! Cerita baru akan selesai ketika nyawa tak lagi dikandung badan. Maka buatlah cerita tentang kemenangan dakwah!

01 november 2005,
 Salam cinta untuk adinda nesia,razak,dan mega