Meski isu pemisahan agam dan politik tidak sehangat isu penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, rasa-rasanya masih menarik untuk di ulas atau di hangat kembali. Daripada mengganggu fikiran jadi ditumpahkan dalam bentuk tulisan.

mari kita bahas. Jika Agama dan politik dipisahkan dalam bernegara, lalu pejabat negara ini nanti disumpahnya pake Kitab Suci atau pake kitab apa? KUHP kah?

Pertanyaan ini muncul seketika dalam pikiran saya? Salah satu keikut sertaan agama dalam negara, yaitu saat pejabat/penyelenggara negara disumpah sebelum menjalankan tugas negaranya dengan kitab suci agamanya masing-masing.

Lalu, apa hubungannya politik dengan negara? Ya mayoritas penyelenggara negara itu politisi, terserah berbaju partai atau berbaju profesional/birokrat (red: make up saja). harus ada sesuatu pengikat agar politisi ini tidak liar seperti binatang yang tidak punya akal. Salah satu pengikatnya adalah sumpah jabatan.

Lalu kenapa penyelenggara negara harus disumpah? Naluri manusia takut termakan sumpah apalagi sumpah dengan nama agama dan kitab suci. Hal ini jadi “paga panghalang” biar selalu bisa mengkontrol diri sendiri.

Bersumpah dengan Alquran atau kitab suci saja ingkar bagaimana jadinya jika bersumpah tidak pada keyakinannya (agamanya/kitab sucinya)? Sudah bersumpah atas nama agama, masih korupsi besar apalagi tidak. Sulit rasanya agama dipisah dengan politik, lalu apa yg akan “mengikat” perangai politisi? Terbayang sudah jadinya jika agama dan politik jadi dipisah, hancur negara ini.

Teman, founding fathers sudah selesai mengkonsep negara ini. Janganlah diacak-acak lagi kawan, jika tidak nyaman dengan agama yang kau peluk ya keluar saja dari agama itu pindah agama atau atheis sekalian.

Ibarat bubuk kopi dengan air. Bubuk kopi tanpa air tak kan bisa dinikmati, nikmatnya minum kopi. Sama seperti, “Bernegara tanpa agama, takkan nikmat rasanya”. Sedangkan dinamisasi dalam bernegara itu ibarat gula dalam secangkir kopi, bikin kopi enak jika takarannya pas. Jadi jika kopinya kurang pas jangan airnya yang kau buang, tapi gulanya ditakar biar pas dilidah.