“Hari ini adalah rapat pembentukan Organisasi mahasiswa Islam karena semua persiapan maupun perlengkapan yang diperlukan sudah beres.”

Demikan prakata seorang mahasiswa yang bernama Lafran Pane membuka rapat pendirian Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tepatnya 65 tahun silam. Hari rabu 14 Rabiul Awal 1366H, bertepatan 5 Februari 1947 M. rapat yang berlangsung di salah satu runga kuliah STI (Sekarang UII) Yogyakarta, disaksikan Husein Yahya (mantan Dekan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang seharusnya mengajar kuliah tafsir, mengesahkan berdirinya HMI.

Semenjak saat itu HMI mendapat sambutan hangat tidak hanya dari kalangan mahasiswa Islam, melaikan dari seluruh elemen bangsa. Itu terbukti dengan ucapan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam sambutan pada peringatan 1 Tahun berdiri HMI. Dalam kesempatan tersebut Jenderal Soedirman mengatakan “HMI hendaknya benar-benar HMI, jangan sampai suka menyendiri” bagi Pak Dirman, HMI yang benar bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam melainkan Haparan masyarakat Indonesia.

Sejarah membuktikan bahwa HMI sebagai ”anak kandung” bangsa, banyak berbaur dengan proses panjang (enduring process) perjuangan Indonesia. dalam proses-proses setting social tersebut HMI dengan cita-citanya Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam sampai saat ini masih berdiri kokoh dan siap berjuang untuk umat dan bangsa ini.

Berbicara Sejarah HMI setidaknya ada lima zaman yang dilalui HMI, selama itu juga HMI melewati banyak tantangan dan rintangan seiring dengan ciri dan karakter masing zaman tersebut.

  1. Pertama, Zaman kemerdekaan (1946-1949), HMI melewati beberapa fase, yaitu konsolidasi, pengokohan dan perjuangan menghadapi pemberontak PKI. Pada fase ini segenap kader HMI terjun kegelanggang medan pertempuran melawan Belanda, membantu pemerintah, baik langsung maupun tidak langsung. HMI membentuk Cops Mahasiswa (CM) di bawah pimpinan Ahmad Tirtosudirto, ikut membantu pemerintah dengan mengarahkan anggota CM ke gunung-gunung memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI tertanam.
  2. Kedua, Zaman Liberal (1950-1959), lewat kongres ke V HMI di Medan 1957 menghasilkan keputusan menuntut Islam sebagai dasar Negara dan mengharamkan penganut ajaran komunis.
  3. Ketiga, Zaman Orde Lama (1950-1965), HMI menghadapi tantangan pembubaran oleh PKI lewat propagandanya dengan mencari dalil dan fitnah yang tidak ada buktinya. DN. Aidit sebagai pemimpin pimpinan PKI waktu itu menyebutkan “Seharusnya tidak ada plintat-plintut terhadapa HMI. Saya menyokong penuh tuntutan pemuda, pelajar, dan mahasiswa yang menuntut pembubaran HMI, yang seharusnya sudah lama bubar bersama dengan bubarnya Masyumi.” Pidato Aidit yang menyakitkan adalah “Kalau tidak sanggup membubarkan HMI pakai kain sarung saja.” Namun perlawanan terhadap gerakaan DN. Aidit tersebut datang dari generasi muda Islam (GEMUIS) yang lahir 1964, membentuk Panitia Solidaritasd Pembelaan HMI. Lewat apel akbarnya membawa spanduk yang berbunya “Langkahi Mayat sebelum goyang HMI”. Anti klimaks dari peristiwa itu, maka HMI secara organisatoris mengeluarkan pernyataan mengutuk Gestapu PKI lewat surat nomor: 2125/B/Sek/1965 yang ditanda tangani oleh Sulastomo sebagai Ketua Umum dan Marie Mahmammad sebagai sekretaris Jenderal PB HMI. Akhirnya HMI masih tetap bertahan sampai sekarang, sedangkan PKI dibubarkan oleh pemerintah.
  4. Keempat, Zaman Orde Baru (1966-1998), HMI beperan sebagai pejuang Ode Baru dan pelopor kebangkitan angkatan 66 dengan membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), berpartisipasi dalam pembangunan serta atau pergolakaan dan pembaruan pemikiran Islam, puncaknya tahun 1970 takkala Cak Nur (Ketua Umum PB HMI dua periode) menyampaikan ide pembaruaan pemikir Islam dan masalah interaksi umat. Kelima, Zaman Reformasi (1998-sekarang) bila dicermati dengan seksama secara histories HMI sudah mulai melaksanakan gerakaan reformasi dengan menyampaikan beberapa pandangan yang berbeda dan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru, seperti yang disampaikan oleh ketua Umum PB HMI Anas Urbaningrum pada waktu peringatan Dies Natalis HMI ke-51 di Graha Insa Cita Depaok tanggal 22 Februari 1998 dengan judul Urgensi Reformasi Bagi Pembangunan Bangsa yang Beradap. Pidato ini disampaikan 3 bulan sebelum lengsernya Presiden Soeharto.

Dengan kata lain, selama 65 tahun HMI telah mengarungi samudra Indonesia dengan segudang kontribusi dan pemikiran yang telah dihibahkan kepada bangsa dan masyarakat Indonesia. Baik kontribusi dalam konteks kebangsaan (keindonesiaan), keumatan (keislaman), dan pemikiran (intelektualitas).

Keberadaan HMI Di Sumatera Barat

Periodesasi perjuangan HMI tersebut sampai saat ini belum jua habisnya. Sampai hari ini HMI masih eksis mengawal Pemerintahan di Negara Repuplik Indonesia ini. Sampai detik ini proses kaderisasi dalam batang tubuh HMI masih terus berjalan. Dari  aceh sampai Papua proses training HMI masih saja terjadi. Dalam data terakhir sudah ada lebih kurang 200 cabang HMI di Indonesia.

Dalam konteks lokal Sumatera Barat HMI tentunya punya sejarah yang panjang dimulai sejak Saidal Bahauddin menapakkan kakinya di tanah Minangkabau, Bukittinggi tahun 1956. Hingga detik ini meskipun beliau telah tiada, dimana udara pagi masih mengisi paru-parunya yang mana akal pikiran masih mendominasi gerak laku, kehadiran Saidal Bahauddin tetap berpijak pada pembinaan generasi muda calon-calon pemimpin masa depan. Pergulatan tiada henti semenjak sentuhan pertama dengan alam tempat nenek moyangnya dilahirkan dahulu, dengan penuh ketulusan, kedermawanan, ketegasan dan kasih sayang. Saidal Bahauddin yang dikenal dengan panggilan ”Abang” memancarkan cahaya pembaharu, sebagai pendobrak zamannya dan terus dikenal seperti itu sampai kini.

Konsisten dalam ucapan dan tindakan. Memperjuangkan ideologi dalam kesederhanaan dengan landasan Islam untuk kebangsaan dan kemasyarakatan. Demikian sekilas sikap almarhum Saidal Bahauddin, tokoh angkatan ’66 dari Provinsi Sumatera Barat. Sosok yang banyak mengilhami pergerakan generasi muda, terutama kalangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Sumbar. Saidal Bahauddin beliaulah yang membawa dan mengembangkan HMI di Sumatera Barat ini.

Alhamdulillah semangat Lafran Pane dan Saidal Bahauddin sampai saat ini masih mengalir dalam tubuh kader HMI. meski zaman telah berubah HMI masih ada dan eksis di Sumatera Barat sampai sekarang. saat ini HMI masih konsisten menciptakan generasi-generasi berkualitas untuk umat dan bangsa ini. Dalam perjalannya dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat, HMI  telah memiliki cabangnya di 12 kabupaten/kota diantaranya: Padang, Batusangkar, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Sijunjung, Payakumbuh, Pesisir Selatan, Solok, Pariaman,Lubuk Sikaping, Pasaman Barat, dan Solok selatan.

Keberadaan HMI sekarang

Belakangan peran-peran kebangsaan, keumatan, dan intelektualitas itu mulai memudar –untuk tidak mengatakan hilang sama sekali. Sehingga, muncul gugatan dari banyak pihak, bisakah sejarah kejayaan HMI masa lalu itu kita rengkuh kembali di masa kini?

HMI berperan penting dalam memberikan corak dan warna baru dalam pemikiran Islam. Jika ditelaah sejarah pembaruan pemikiran Islam pada 1960, HMI menjadi terdepan.Sepak terjang intelektual dan pemikiran kader-kader muda HMI yang dimotori oleh Nurcholish Madjid berhasil memberikan tafsir baru bagi lahirnya Islam yang inklusif, humanis, dan moderat.

Tampak sekali, betapa HMI menjadi king maker bagi arus perubahan, baik perubahan pemikiran maupun demokratisasi. Kala itu, HMI tidak saja bermain dalam tataran idealisme dengan keunggulan ide-ide kritis, gagasan-gagasan segar, dan karya-karya intelek tual, tetapi sekaligus mampu mengawinkannya dalam sebuah gerakan praksis.

Harus diakui, HMI hari ini ibarat serigala ompong yang hanya bias meraung, tetapi tak mampu menggigit. Ketika kader-kader HMI berteriak ”tegakkan hukum”, di saat yang sama kader HMI melabrak rambu-rambu hukum. Demikian pula, ketika HMI mengumandangkan ”berantas korupsi”, di saat yang sama banyak kader atau alumni HMI yang terlibat korupsi. Saya tidak bermaksud menguliti HMI dalam arti mencoba menguak borok dan bobrok organisasi yang didirikan Lafran Pane itu kepada publik. Saya juga tidak sedang mengadili HMI yang sudah mengalami kejumudan dalam berpikir dan ber karya. Baik buruknya HMI adalah tang gung jawab kita semua sebagai kader HMI

Apa yang saya ungkapkan ini adalah sebuah kenyataan empiris yang mau tidak mau harus kita sikapi bersama secara baik dan bijaksana sebagai bentuk tanggung jawab dan kecintaan kita terhadap HMI. Sebab, masa depan HMI sangat ditentukan oleh kader-kadernya saat ini, termasuk saya sebagai ketua umum. Dengan bersandar pada kelemahan itu, kita punya preferensi apa yang harus diperbuat dan dilakukan. Menemukan sandaran profetik untuk menyelesaikan problem itu demi kejayaan HMI di masa kini, esok, dan yang akan datang. Dari sudut pandang mana kita melangkah dan bertindak.

Sebab, kita tidak akan melakukan tindakan apa-apa jika hanya terlena pada kejayaan sejarah HMI di masa lalu. Sejarah masa lalu harus dijadikan cermin sekaligus otokritik pada masa kini. Dengan demikian, kita bisa menjadikan sejarah sebagai alat untuk melakukan dialog dan analisis. Apa pentingnya HMI punya sejarah emas kalau kenyataannya hari ini lembaran sejarah itu hanya sebagai pengantar di forum-forum diskusi belaka. Apa artinya pula HMI punya kader yang tersebar di seluruh Nusantara, tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Jika sejarah HMI di masa lalu itu kita rawat dan pertahankan hingga saat ini, betapa hebatnya organisasi ini, betapa dinamisnya organisasi ini, dan betapa dihormatinya organisasi ini. Kader-kader HMI tidak akan lagi dicap sebagai kader yang mendompleng sejarah kejayaan masa lalunya, tetapi kader yang mampu memproduksi sejarah sendiri.

Potensi besar kader HMI yang tersebar di kabupaten/kota di Indonesia ini adalah sesuatu yang harus dijaga.  Diusia HMI yang ke 65 ini harus ada sebuah tekat bersama yaitu selalu menjadikan HMI sebagai harapan masyarakat Indonesia. Menjadikan HMI selalu memegang teguh Ideologinya. Semua itu memang tugas berat, untuk  itu Renovasi gerakan HMI harus segera dilakukan.

Mewujudkan semua itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar harapan tersebut tercapai secara maksimal. Meningkatkan solidaritas sesama kader merupakan keharusan yang dilakukan. untuk itu program-program harus dirancang meningkatkan itensitas Interaksi sesama kader karena Tiada Solidaritas Tanpa Interaksi, Tiada Interaksi Tanpa Komunikasi

kedepan HMI sebagai organisasi kader tidak boleh mengabaikan pengkaderan karena pengkaderan adalah jantung organisasi. Ketika pengkaderan tidak ada lagi, maka HMI hanya akan tinggal nama saja. Training Formal dan informal di HMI harus lebih Sering dilakukan, Diskusi-diskusi ilmiah juga harus lebih sering lagi dilakukan.

Untuk eksternal gerakan HMI difokuskan pada isu-isu yang menyentuh masyarakat bawah seperti pendamping agenda pengentasan kemiskinan dan pengangguran, pemberdayaan Pemuda. Akhirnya untuk mewujudkan harapan masyarakat Indonesia HMI harus dikembalikan kepada komunitasnya semula yaitu mahasiswa dan masyarakat (umat dan bangsa). Bahagia HMI, Bahagia Umat dan Bangsa.

Selamat ulang tahun Himpunan Mahasiswa Islam ke 65 bahagia HMI, yakin usaha sampai.

terinspirasi dari :
Reno Fernandes (Ketua Umum Badko HMI Sumatera Barat)