Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Situasi Covid 19 Sesuai dengan Pembelajaran Agama Islam

Semenjak terjadinya wabah virus corona atau Covid-19 yang menimpa Negara Indonesia, berawal dari dua orang WNI yang terserang  virus ini karena berkontak lansung dengan WNA dari Jepang. Beberapa selang waktu setelah pasti terdeteksi virus Covid-19 pada WNI tersebut, barulah Presiden mengambil kebijakan untuk menetapkan keputusan lockdown bagi warga Negara Indonesia.

Keputusan ini dianggap sudah terlambat dikeluarkan, sehingga penyebaran banyak tertular ke warga lain, setelah keluarnya Surat Edaran itupun masih banyak Warga Negara Asing yang berhasil masuk ke Indonesia, seperti China, Thaiwan, dll. Sampai akhirnya beberapa minggu baru terlaksananya keputusan untuk penolakan Warga Negara Asing masuk ke Indonesia, dan pemulangan Warga Negara Asing ke negara masing-masing, serta lockdown bagi warga negara Indonesia sebagai upaya untuk memutus mata rantai penularan virus tersebut.

Selain sebagai kebijakan resmi oleh pemerintah, ada beberapa nilai pendidikan dan kedisiplinan yang dapat kita pelajari dari Lockdown atau Tetap di rumah untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 ini. Disiplin yang  paling menonjol ialah  menjaga kebersihan dengan cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan menghindari keramaian, serta memperbannyak ibadah di rumah.

Dalam Pendidikan Agama Islam, berdiam diri di rumah ini saat pemutusan mata rantai penularan Covid-19 merupakan peningkatan nilai-nilai kedisipilinan dan pendidikan. Misalnya dalam beribadah dan menjaga kebersihan lingkungan serta kebersihan diri. Dalam keseharian umat Islam itu dianjurkan banyak-banyak melakukan ibadah sunat di samping menunaikan ibadah wajib.  Apabila seseorang di samping melaksanakan shalat wajib, juga bisa ditambah dengan shalat sunat, maka itu sudah merupakan nilai kebersihan yang tinggi dan nilai kedisiplinan yang baik, terutama dalam membagi waktu.

Islam merupakan agama pencegahan, yakni mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dalam Islam sudah diperintahkan untuk mewujudkan pola hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang, serta perilaku dan etika makan dan minum yang baik. Dalam etika makan, Allah SWT telah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 114 yang berbunyi:

فكلوا ممّا رَزَقَكُمُ اللهُ حَللاً طَيِّباً وَشْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ إنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ (١١٤)

Artinya: ”Maka oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian” (Q.S An-Nahl : 114)

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa kita diperintahkan Allah SWT untuk memakan makanan yang halal lagi baik, karena kebanyakan dari wabah penyakit menular biasanya ditularkan oleh hewan yang menyimpan bakteri-bakteri jahat. Islam sudah menetapkan hewan yang halal untuk dimakan dan yang haram dimakan, termasuk kelelawar yang menjadi penyebab utama datangnya virus corona.

Pada masa Rasulullah SAW, wabah penyakit menular sudah terjadi, wabah tersebut adalah kusta yang menular serta mematikan, dan obatnya belum ada. Untuk mengatasi wabah tersebut, Rasulullah SAW menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Dengan demikian, metode karantina atau lockdown telah diterapkan juga semenjak zaman Rasulullah SAW sebagai pemutus mata rantai penularan penyakit yang berbahaya, dan saat ini juga melanda dunia.

Rasulullah SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknnya, jika sedang berada ditempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar dari daerah tersebut. Sabda Rasulullah SAW :

قَلَ رَسُوْلُ اللهُ ص.م الطَّاعُوْنَ آيَةُالرَّجْزِ ابْتَلَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ ناَساً مِنْ عِباَدِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلاَ تَدْخُلُوْا عَلَيْهِ وَإِذَاوَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا تَفِرُّوْا مِنْهُ.

Artinya : “Tha’un (wabah penyakit menular )adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-hamba Nya dari kelangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit disuatu negeri janganlah kamu masuk ke negeri itu. dan apabila wabah ituberjangkit dinegeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin zaid).

Dari hadits tersebut maka khalifah negara menerapkan kebijakan dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular, ketika isolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat.

Keterangan di atas bisa kita ambil ‘ibrah atau pembelajarannya bahwa:

Pertama, karantina sebagai sabda Rasulullah SAW di atas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat.

Kedua, bersabar. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda, “wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah SWT Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka ia mendapat balasan seperti mati Syahid.”

Ketiga, berbaik sangka dan berikhtiarlah. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia yang menurunkan penawarnya.” (HR. Bukhari).

Keempat, banyak-banyaklah berdo’a dan shalat sunah di sela-sela waktu yang dianjurkan, misalnya shalat sunah dhuha, rawatib, dll. Perbanyak dzikir dan membaca do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah SAW untuk dilafadzkan disetiap pagi dan sore, yaitu dzikir pagi dan petang.

Walaupun peneliti belum menemukan bukti ilmiahnya, tetapi logika secara sederhananya bisa kita perhatikan pada orang yang jauh dari Allah SWT, biasanya mudah mengalami stress, pada kondisi stress hormon yang bekerja adalah adrenalin, norepinephirine, dan kortisol. Hormon stress akan menyebabkan asam lambung naik, sistem imun turun sehingga mudah terkena penyakit. Sebaiknnya pada orang-orang yang beriman dan tawakkal, hormon oxytocin bekerja lebih baik, sehingga akan menghasilkan endorphin yang tinggi yang menimbulkan kedamaian dan ketenangan, sehingga sistem imun tubuh menjadi lebih kuat.

Terkait dengan wabah coronavirus atau Covid-19 ini, sebagai seorang mukmin, maka sebaiknya selain melakukan ikhtiar dengan social distancing, maka tingkatkan juga ikhtiar spiritual kita. Mari kita bertafakkur lebih jauh, semua wabah ini adalah sebuah rahmat-Nya, sebuah peringatan bagi yang berfikir untuk terus menjadikan musibah sebagai wasilah atau jalan untuk terus banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga ketika tingkat kepasrahan tinggi maka akan dirasakan ketenangan yang hakiki.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa dengan menjaga nilai-nilai kedisiplinan dan menjalankan aturan syari’at Islam, seperti cuci tangan setiap saat, jaga kebersihan lingkungan serta perbannyak doa dan ikhtiar dan tingkatkan keimanan dengan banyak melakukan shalat-shalat sunah yang sudah dianjurkan oleh Nabi SAW, bahkan jaga jarak dengan tidak bersentuhan terutama yang bukan muhrim, semua itu dapat menjadi upaya pencegahan penularan virus corona atau Covid-19 yang masih belum seutuhnya pergi dari bumi tercinta ini. Selain itu juga dapat meningkatkan keimanan serta intensitas kedekatan hati kita dengan Allah SWT. Dengan menjaga aturan-aturan Islam serta menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka Insya Allah bisa menjaga kita dari berbagai penyakit dan terselamatkan atau terhindar dari marabahaya. Hasbunallahu wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashiir.

Oleh:Elni Desriwita

Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat